Bayangan Kĕrtanāgara di Singosari
Papan penunjuk jalan yang memuat kata “Tumapel” menarik ingatan saya pada novel “Arok – Dedes”-nya Pram. Ya, nama Tumapĕl memang erat kaitannya dengan keberadaan Kerajaan Singosari dengan Ken Angrok (Śrī Rājasa Sang Amurwwabhūmi) sebagai raja pertamanya. Ken Angrok muncul sebagai pendiri wangsa baru yaitu wangsa Rājasa (Rājasawangśa) setelah menggulingkan kekuasaan Akuwu Tumapĕl, Tunggul Amĕtung. Wangsa inilah yang kemudian akan berkuasa selama masa Singosari dan Majapahit.
Salah satu peninggalan yang sohor dari masa Kerajaan Singosari (1222 – 1292 M) adalah Candi Singosari. Candi yang merupakan tempat pendharmaan raja Kĕrtanāgara (1268 – 1292 M) –raja terakhir Kerajaan Singosari- ini terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Tidak banyak pengunjung sore itu. Beberapa petugas penjaga candi bercakap-cakap di pos keamanan yang terletak di sisi barat daya candi. Setelah mengisi buku tamu saya memulai eksplorasi singkat di candi ini. Saya menggali informasi mengenai Candi Singosari dari para arca terlebih dahulu.
Arca-arca yang diduga temuan lepas diletakkan berjajar di sisi barat candi. Sebagian besar dari arca-arca itu tidak lagi utuh. Ada yang kepala atau tangannya hilang. Selain itu tingkat keausan dari masing-masing arca juga sangat tinggi. Namun begitu beberapa arca masih dapat teridentifikasi. Misalnya saja 7 pasang kaki kuda yang menunjukkan wahana (kendaraan) Dewa Surya. Meskipun arca Dewa Surya sudah hilang namun dari wahananya (kendaraan) masih dapat diketahui bahwa itu adalah arca Dewa Surya bersama wahananya.
Dahulu ketika mengikuti pelajaran ikonografi saya lebih banyak melihat gambar-gambar saja tanpa mengetahui langsung bentuknya. Akan terasa sangat berbeda ketika berada di lapangan. Rasanya lebih “nempel” ketika dapat langsung berinteraksi dengan objek yang dipelajari. Sore ini saya berusaha keras untuk mengenali arca-arca itu dari laksana (tanda/simbol pada arca), abharana (pakaian dan perhiasan yang dikenakan oleh arca), serta sikapnya. Ternyata mengidentifikasi arca tidak selalu mudah, terlebih jika bagian arca sudah banyak yang hilang.
Pesona para arca cukup menguras tenaga saya untuk berpikir. Kemudian saya melakukan satu kali prasawiya (mengkirikan candi) sebelum naik ke atas candi. Setelah itu tiba waktunya untuk menilik segi arsitektur candi berserta arca-arca yang ada di dalamnya.
Candi ini dibangun menjulang tinggi seolah-olah tersusun atas dua tingkat. Pertimbangan arsitektur yang matang menyebabkan kontruksi candi ini dibuat makin ke atas makin ramping. Di tingkat pertama dijumpai adanya empat buah relung. Tiga dari empat relung itu dibuat tidak terlalu dalam. Pada candi-candi Hindu biasanya ditempatkan sebuah arca pada relung-relung itu. Sementara satu relung lainnya dibuat sedikit lebih luas untuk menempatkan arca utama. Pintu masuk candi berada di sisi barat. Pintu inilah yang akan mengantar kita ke relung utama tempat arca utama berada. Sementara itu terdapat empat relung yang tidak terlalu dalam di tingkat kedua. Tidak dijumpai arca pada keempat relung tersebut.
Karena saya melakukan prasawiya maka relung yang pertama saya singgahi adalah relung tempat Agastya berada. Relung sisi selatan ini biasanya memang diidentikkan sebagai tempat Agastya. Agastya yang saya jumpai di Candi Singosari ini cukup unik dengan jatamakuta (salah satu bentuk mahkota) seperti sorban. Agastya dikenali dari perutnya yang buncit (tundila). Perut yang buncit sebagai simbol bahwa Agastya menyimpan banyak pengetahuan untuk disebarkan ke semua manusia. Selain itu Agastya juga dikenali dari janggutnya. Saya langsung teringat dengan tokoh natal Santa Klaus. Kalau dilihat sekilas sepertinya mereka berdua mempunyai kemiripan. Selain itu ada beberapa benda yang dibawa oleh Agastya. Tangan kanan Agastya memegang aksamala (tasbih). Dari belakang bahu kiri tersembul camara.
Tidak terdapat arca di bilik timur dan utara candi. Biasanya di relung timur ini ditempati oleh Ganesha dan Durga berada di relung utara. Begitu juga dengan dua relung kecil yang berada di utara dan selatan relung utama. Umunya kedua relung itu ditempati oleh Nandiswara dan Mahakala (aspek lain dari Siva). Menurut Renville Siagian, arca Ganesha dan Durga sekarang berada di Museum Leyden. Arca-arca itu dipindahkan dari reruntuhan candi pada 1804 untuk kemudian di bawa ke negeri kincir angin pada 1819.
Di relung utama saya menjumpai adanya sebuah yoni. Yoni biasanya dipasangkan dengan lingga. Lingga merupakan bentuk lain (litomorphic) dari Siva sebagai bijavan (pemberi kehidupan). Lingga dan yoni menjadi simbol kesatuan yang kekal. Saya tidak sempat menggali informasi lebih jauh apakah yoni ini ditemukan tidak bersama-sama dengan lingga ataukah memang tidak ditemukan lingga sama sekali. Yang jelas keberadaan yoni di bilik utama ini merupakan media penghubung antara kekuatan dari langit dan dari bumi.
Kekuatan dari bumi direpresentasikan lewat peripih (bisa berupa lempengan emas atau logam lainnya, biji-bijian, tanah, dan lain-lain) sebagai zat hidup candi. Sementara itu kekuatan dari langit adalah kekuatan dari para dewa yang digambarkan bersemayam di bagian atap candi. Para pendeta kemudian akan mengalirkan air suci ke atas lingga. Air suci itu kemudian akan mengalir pada cerat yang terdapat di badan yoni. Saat itulah kekuatan dari bumi dan langit terakumulasi dan “menghidupkan” arca utama candi.
Seperti prosedur pembangunan candi pada umumnya, candi ini juga dibangun dari bawah ke atas. Batu-batu andesit disusun dari bagian kaki, badan (tubuh), lalu kemudian bagian atap candi. Berbeda dengan penyusunan batu candi, pembuatan relief atau hiasan candi justru dimulai dari bagian atas candi. Hal itu mungkin didasari atas pertimbangan teknis untuk meminimalisir tingkat keausan batu saat pembuatan relief.
Info sederhana tentang prosedur pembuatan relief mengajak saya untuk mengamati lebih seksama candi ini. Tampaknya Candi Singosari belum sempurna dibangun. Hal itu terlihat dari kedua Kala yang berada di tingkat pertama dan kedua. Kala di tingkat kedua mengalami pengerjaan yang sempurna. Ekspresi muka diukir dengan jelas. Sementara Kala yang ada di tingkat pertama baru mengalami pengerjaan awal. Kala ini belum menunjukkan ekspresi seperti Kala di tingkat kedua.
Sebab musabab mengenai belum sempurnanya candi ini memang belum pasti. Bisa saja ketika proses pembangunan, candi ditinggalkan karena telah terjadi perang. Faktor-faktor yang menyebabkan pembangunan candi tidak diselesaikan dapat menjadi kajian menarik bagi para arkeolog.
Mengenai tahun pembangunan Candi Singosari, Bernett Kempers memperkirakan bahwa candi ini dibangun pada 1300 M. Candi ini diduga merupakan tempat pendharmaan raja Kĕrtanāgara sebagai Bhairawa. Di candi ini memang ditemukan arca Bhairawa yang merupakan aspek ugra (demond) dari Siva. Penggambaran semacam ini sering dikaitkan dengan ritual blood offering. Saya pikir hal itu logis mengingat raja Kĕrtanāgara adalah seorang penganut Buddha Tantrayana (aliran kalachakra) yang taat.
Berkunjung ke Candi Singosari kurang lengkap rasanya bila tak mengetahui tokoh yang didharmakan di sini. Tokoh itu adalah raja Singosari terakhir yaitu Kĕrtanāgara. Saya sangat familiar dengan tokoh yang satu ini berkat politik perluasan “Cakrawala Mandala” serta ritual-ritual Tantra yang dilakukannya.
Dari beberapa sumber yang saya baca rupanya Kĕrtanāgara sudah disebutkan sebagai raja dalam sebuah prasasti yang berasal dari masa pemerintahan ayahnya (Wişņuwarddhana). Prasasti tembaga yang ditemukan di Desa Pakis Wetan (Kedu) itu berangka tahun 1267 M. Penyebutan Kĕrtanāgara sebagai raja dalam prasasti Pakis Wetan diperjelas lagi dengan suatu keterangan di dalam Kakawin Nāgarakrtāgama. Dari Nāgarakrtāgama diketahui bahwa Wişņuwarddhana telah menobatkan anaknya menjadi raja pada 1254 M. Mungkin tindakan Wişņuwarddhana ini semata-mata dilakukan untuk mengukuhkan anaknya menjadi yuwarāja atau kumārarāja (raja muda). Semacam bentuk pelatihan dini. Biasanya raja muda ini diberikan kedudukan sebagai raja di suatu wilayah. Menurut prasasti Mūla- Malurung (1255 M), Kĕrtanāgara dinobatkan menjadi raja di Daha yang memerintah seluruh daerah Kadiri. Baru pada tahun 1268 M, Kĕrtanāgara resmi memerintah Kerajaan Singosari.
Kĕrtanāgara kemudian sangat dikenal karena politik perluasan wilayahnya yaitu politik “Cakrawala Mandala”. Ada cerita dibalik munculnya sikap politik itu. Ternyata “Cakrawala Mandala” lahir akibat adanya ancaman dari daratan Cina. Saat itu daratan Cina diperintah oleh Kaisar Shih-tsu Khubilai Khan. Khubilai Khan kemudian mendirikan dinasti Yuan pada 1280 M. Kaisar yang berkuasa sejak 1260 M itu mengawali dinasti barunya dengan meminta legitimasi kekuasaan dari wilayah-wilayah yang sebelumnya telah tunduk pada raja-raja dari dinasti Sung.
Singosari sebagai sebuah kerajaan besar di Pulau Jawa saat itu juga tak luput dari incaran Khubilai Khan. Maka pada 1280 dan 1281 M utusan Khubilai Khan datang ke Singosari. Utusan itu membawa pesan agar Singosari mengirimkan seorang pangeran ke Cina sebagai tanda tunduk kepada Kekaisaran Yuan. Tentu saja Kĕrtanāgara tidak tinggal diam. Sejak saat itu Kĕrtanāgara mengubah pandangan politiknya. Jika pada awalnya dia memusatkan perhatiannya pada wilayah-wilayah di lingkungan Pulau Jawa saja (yāwadwīpāmandala), maka ia kemudian memperluas mandalanya hingga ke luar Jawa. Kemudian sikap politiknya itu lebih dikenal dengan “Cakrawala Mandala”.
Saya curiga bahwa Kĕrtanāgara terobsesi dengan Khubilai Khan. Mengapa? Dari sumber yang saya baca diduga bahwa sisi religi Kĕrtanāgara pun dipengaruhi oleh religi yang dianut oleh Khubilai Khan. Bisa dikatakan Kĕrtanāgara semacam ingin mengimbangi Khubilai Khan. Namun saya tak ingin gegabah untuk menyimpulkannya.
Buddha Tantrayana aliran kalachakra mulai berkembang di Benggala hingga kemudian menyebar di Tibet dan Nepal. Raja-raja Mongol rupanya sangat tertarik dengan aliran ini. Sesampainya di Jawa, kalachakra kemudian mengalami percampuran dengan pemujaan terhadap Siwa-Bhairawa. Jamak diketahui bahwa aliran-aliran agama ataupun religi yang sampai ke Indonesia sebagian mengalami proses adaptasi. Menurut saya tidak ada ajaran yang benar-benar murni yang dijalankan di Indonesia.
Kalachakra sebagai aliran yang dianut oleh Kĕrtanāgara diketahui dari kakawin Nāgarakrtāgama. Kakawin ini menyebutkan Kĕrtanāgara sebagai raja yang paling sempurna. Tak ada yang mampu menandinginya. Ia sempurna di dalam sadguna (ilmu ketatanegaraan), paham akan segala ilmu pengetahuan, menguasai ajaran tatwopadeśa (ilmu tentang hakekat), patuh pada hukum, teguh dalam menjalankan ketentuan agama yang berhubungan dengan pemujaan Jina, dan amat taat dalam menjalankan prayogakrya (ritus-ritus tantra).
Tujuan akhir dari aliran kalachakra ini adalah śūnyaparamānanda, yaitu tingkatan hidup sebagai Adibuddha yang abadi, yang mengecap kebahagiaan yang tertinggi (paramānanda), dan hakekatnya adalah kesunyataan (śūnyatā). Dengan berbagai upacara orang dapat mencapai tingkatan śūnyaparamānanda ini. Selanjutnya semasa orang itu masih hidup, ia akan ditahbiskan sebagai Jina. Demikianlah yang dialami oleh Kĕrtanāgara yang karena ketaataannya dapat ditahbiskan menjadi Jina.
Kĕrtanāgara kemudian dinobatkan sebagai Jina di kuburan Wurara pada 1289 M. Arca pentahbisannya adalah arca Aksobhya. Arca yang digambarkan dengan kepala gundul ini lebih dikenal dengan nama Joko Dolog. Setelah itu ia mendapatkan gelar Jina yaitu Jnanabajreswara.
Hal yang tak akan pernah saya lupakan adalah “pandangan” awal saya terhadap Kĕrtanāgara. Saat itu dosen saya mengatakan bahwa Kĕrtanāgara terbunuh dalam keadaan mabuk. Kontan saja Kĕrtanāgara hancur citranya di mata saya. Jelas sekali bahwa pada saat itu saya belum mengenal pokok-pokok ajaran Tantrayana, terutama untuk aliran kalachakra. Ternyata dalam ajaran ini jika seseorang sudah sampai pada tingkatan śūnyaparamānanda maka tidak ada lagi hal-hal terlarang untuknya. Selanjutnya orang itu dengan sangat sadar akan melakukan apa yang dinamakan kamapancikam atau pancamakara. Pancamakara terdiri atas lima hal, antara lain maithuna (hubungan seksual), madya (minuman yang memabukkan), māmsa (daging), matsya (ikan), dan mudra (sikap tangan yang menimbulkan kekuatan gaib).
Setelah melakukan politik “Cakrawala Mandala” dan aliran kalachakra dengan baik maka Kĕrtanāgara merasa yakin dapat menghalau kekuatan Khubilai Khan. Dengan berani ia melukai muka utusan Cina, Meng-Ch’i, yang datang pada 1289 M untuk meminta legitimasi dari Singosari. Tak ayal penghinaan itu dibalas oleh Khubilai Khan dengan mengirim tentara Mongol pada 1292 M untuk menaklukkan Jawa.
Akhirnya Singosari mengalami keruntuhan pada waktu itu juga -1292 M-. Namun, jangan langsung menebak bahwa kekuatan besar dari armada Cina yang telah menghancurkan Kĕrtanāgara. Ternyata kekalahan Kĕrtanāgara justru berasal dari dalam negeri. Adalah Jayakatwang yang merupakan salah seorang keturunan raja Kĕrtajaya yang mampu menaklukkan Singosari. Jayakatwang yang juga ipar Kĕrtanāgara itu rupanya mendapat bisik-bisik dari patihnya untuk membalas dendam kematian leluhurnya. Maka dari itu ia dibantu Arya Wiraraja –adipati Sungĕnĕp- kemudian menggempur Singosari di saat yang tepat. Setelah Kĕrtanāgara berhasil dilenyapkan maka seluruh Kerajaan Singosari pun resmi dikuasai oleh Jayakatwang.
Kemudian Kĕrtanāgara didharmakan di Candi Singosari dengan tiga arca perwujudan –yang melambangkan trikaya-, yaitu sebagai Siwa-Buddha dalam bentuk Bhairawa yang melambangkan nirmānakāya, sebagai Ardhanari yang melambangkan sambhogakāya, dan sebagai Jina dalam bentuk Aksobhya yang melambangkan dharmmakāya.
Saya pikir banyak pelajaran yang bisa dipetik dalam perjalanan kali ini. Apalagi dalam kesempatan ini saya tidak ingin berasyik-asyik hanya dengan aspek fisik si candi saja. Saya sengaja mencari sisi “tokoh” di Candi Singosari. Menurut saya hal itu lebih menarik dan menceritakan banyak hal. Dan akhirnya saya beruntung menjumpai ”bayangan” Kĕrtanāgara di sini. Tokoh di balik monumen cantik Singosari ini ternyata mampu mencuri sebagian besar perhatian saya. Kĕrtanāgara pun akhirnya saya masukkan ke dalam jajaran tokoh-tokoh idola saya.
Sumber bacaan:
Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho N. 1993. Sejarah Nasional Indonesia II. Balai Pustaka. Jakarta.
Renville Siagian. 2001. Candi Sebagai Warisan Seni dan Budaya Indonesia. Yayasan Cempaka Kencana. Yogyakarta.
Twitter
Facebook


