Belum mendaftar?

Bertamasya ke Little Nederland

Berjalan di atas konblok abu-abu dengan beberapa hiasan garis merah sambil memandang Blenduk yang bermandikan cahaya malam hari. Tepat di seberangnya Jiwa Sraya seakan merespon keberadaan Blenduk. Spektakuler, landmark –penanda-  Kota Lama Semarang dengan gaya Neo-Klasiknya direspon oleh Jiwa Sraya yang kental dengan unsur-unsur tradisional khas arsitek Thomas Karsten. Momen seperti ini tak akan dapat ditemukan selain di Kawasan Kota Lama Semarang. Jadi, tunggu apa lagi?

 

            Sebuah kawasan yang merupakan gabungan antara kota Barat (Belanda) dengan lokal menyebabkan Kota Lama menjadi kawasan yang paling diincar oleh para pecinta bangunan-bangunan lama. Sekedar untuk hunting atau hanya berjalan kaki untuk merasakan kembali nuansa kolonial di Indonesia. Menyusuri lorong demi lorong dan mendapatkan diri di sebuah pulau-pulau kecil tak berpenghuni. Yup, memang kesan pulau-pulau itu dapat kita temukan di sini. Wajar saja karena bangunan- bangunan yang ada hampir seluruhnya tidak mempunyai space untuk halaman. Arsitektur bangunan antar satu dengan yang lainnya pun berbeda-beda. Hal itu memunculkan ciri khas tersendiri bagi Kota Lama Semarang.

            “Little Nederland”, begitulah Kota Lama Semarang dikenal oleh kalangan orang Belanda pada masa lampau. Berlokasi di Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, dengan luas 31,25 Ha merupakan suatu kawasan yang sudah ada sejak 1705. Batas kawasan Kota Lama ialah Kali Semarang di sebelah barat, Jl. Stasiun Tawang di sebelah utara, Jl. Ronggowarsito di sebelah timur, dan Jl. H. Agus Salim di sebelah selatan. Dahulu Kota Lama yang sekarang menjadi pusat perdagangan dan Perbankan bagi Kota Semarang ini merupakan Koloni Belanda yang sangat ramai.

            Sejarah Kota Lama Semarang sebagai pusat koloni Belanda diawali pada saat ditandatanganinya perjanjian antara Kerajaan Mataram dengan VOC pada 15 Januari 1678. Menurut perjanjian itu, Semarang sebagai Bandar utama Kerajaan Mataram Islam digadaikan –sebagai imbalan atas bantuan VOC dalam menumpas pemberontakan Trunojoyo-- kepada VOC. Setelah itu, pada 1705 wilayah Kabupaten Semarang resmi masuk ke dalam kekuasaan VOC. Untuk menyambut peristiwa tersebut maka pemerintah Kolonial Belanda pun membuat benteng. Tembok benteng bersegi lima itu dinamakan de fijvhoek. Namun pada 1824, seperempat abad setelah VOC dibubarkan, pemerintah kolonial memutuskan untuk membongkar benteng tersebut. Lalu pada awal abad ke XX, kawasan Kota Lama Semarang telah dipenuhi oleh bangunan-bangunan. Hampir tiga abad, Kota Lama Semarang merangkai sejarah di dalam perkembangan Kota Semarang. Sangat menarik tentunya bila kita bisa kembali menemukan nuansa kolonial di kota yang dahulunya merupakan pusat pemerintahan, perdagangan, dan kawasan pemukiman ini.

            Saya memutuskan untuk menjelajahi Kota Lama Semarang dengan jasa becak. Pangkalan becak di jembatan Berok - Gouvernements Brug- kemudian menjadi tempat tawar menawar harga antara saya dan Pak becak. Setelah mencapai kata sepakat akhirnya saya dapat memulai perjalanan telusur Kota Lama Semarang.

Menyisir Kota Lama dengan becak memberikan irama tersendiri dalam perjalanan saya. Terik matahari tak akan menghalangi niat saya untuk menikmati keindahan bangunan kolonial yang ada di sini. Dimulai dengan meresapi dalam-dalam bangunan yang dahulu digunakan sebagai kantor Stoomvaart Maatschappij Nederland. Saat ini bangunan karya arsitek H. Thomas Karsten ini digunakan sebagai kantor Djakarta Llyod. Decak kagum tak bisa tertahan ketika menatap megahnya bangunan ini. Pencahayaan dan penghawaan alami diracik dengan sangat cermat. Tak heran bila bangunan ini termasuk ke dalam salah satu karya terbaik dari arsitek Belanda yang banyak menorehkan karya-karyanya di Semarang.

Perjalanan dilanjutkan menuju gedung yang digunakan untuk mementaskan karya seni drama bagi Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya Belanda pada masa kolonial. Dua semut raksasa menyambut kehadiran pertama saya di sini. Dua semut itu adalah produk baru buatan zaman kemerdekaan –berdasarkan wawancara dengan warga sekitar-.  Gedung yang berdiri kokoh juga bukan gedung yang asli. Keaslian yang masih dapat dijumpai hanya pada atap serambi yang memiliki bidang menggembung dan berbentuk separuh elips. Walaupun hanya sebagian, namun sedikit sisa dari bangunan lama tersebut tetap menyuarakan lagu lama. Saya pun tersedot ke dalam suasana masa lampau saat opera mulai dimainkan.

Selanjutnya saya mengunjungi toko era kolonial, Marba. Memang saat ini gedung Marba sudah tidak difungsikan seperti dulu. Namun banyak sejarah yang akan disampaikan kepada kita. Gedung Marba dibangun oleh seorang Yaman bernama Marta Bajunet. Nama “Marba” pun diambil dari singkatan namanya. Sang konglomerat bertujuan mendirikan gedung ini untuk membuka kantor pengelola Ekspedisi Muatan Kapal Laut. Pada tahun-tahun selanjutnya kepemilikan kemudian dilimpahkan kepada putranya, Tuan Marzuki Bawazir. Setelah tuan itu pulang kampung ke Yaman maka gedung ini pun diserahkan kepada sahabatnya, Utoyo Yunus. Dari tahun ke tahun gedung Marba selalu berganti tangan dari satu CV ke CV yang lain. Namun yang paling mengesankan adalah gedung Marba pernah dijadikan toko paling modern saat itu. “de Ziekel” nama toko itu. Saya kemudian membayangkan bagaimana ramainya “de Ziekel” saat itu sebagai yang pertama dan satu-satunya di Kota Lama. Orang-orang Belanda pasti akan membelikan permen Hopkyes dan keju-keju Belanda untuk keluarga yang menanti di rumah. 

Saya kemudian menyusuri Jalan Kepodang. Di jalan ini saya menjumpai nuansa kolonial yang sangat kental. Bangunan-bangunan dengan corak arsitektur yang berbeda satu sama lain benar-benar mengantarkan saya ke sebuah negeri yang sangat elok. Bangunan-bangunan tersebut tampak anggun berdiri berjejer dan berhadapan. Dipisahkan oleh sebuah jalan. Sebut saja bangunan Bank Niaga yang dahulunya digunakan sebagai kantor De Spaar Bank, Bank Dagang Negara yang dahulunya digunakan sebagai kantor Escompto Bank, gedung Borsumij Wehry yang masih digunakan oleh perusahaan yang sama hingga sekarang, Kantor PT. Rajawali Nusantara Indonesia yang dirancang oleh arsitek Liem Bwan Tjie, dan masih banyak lagi bangunan lainnya. Saran saya, jangan pernah untuk melewatkan manisnya kenangan Kota Lama di Jalan Kepodang.

Akhir dari perjalanan di Jalan Kepodang mengantarkan saya ke Gedung Jiwa Sraya. Jiwa Sraya dibangun pada perempat abad XX. Berdasarkan pengenalan pada unsur-unsur budaya lokal yang lekat menempel pada arsitekturnya, tak salah lagi kalau maestro dari gedung ini adalah arsitek kondang H. Thomas Karsten. Perhatian saya lalu dicuri oleh bangunan megah yang memiliki atap berbentuk kubah yang sangat besar –merupakan kubah terbesar yang ada di Semarang-, tepat di depan Gedung Jiwa Sraya. Bangunan yang tampil kontras dengan bentuk bangunan yang lebih menonjol –sebab bangunan di Kota Lama umumnya memagari jalan dan tidak menonjolkan bentuk- ini dikenal sebagai gereja Blenduk. Bangunan berarsitektur Neo Klasik ini dibangun pada 1753 yang kemudian mengalami renovasi pada 1894. Gereja Blenduk yang semula digunakan sebagai Nederlandsch Indische Kerk (Gereja Protestan) adalah tetenger –landmark- Kota Lama Semarang.

 Bangunan Gereja Blenduk sudah mengalami beberapa kali pergantian rupa-wajah-. Awal dibangun pada 1753, bentuknya adalah rumah panggung Jawa dengan atap yang sesuai dengan arsitektur Jawa. Pada 1787 rumah panggung ini dirombak total. Tujuh tahun kemudian diadakan kembali perubahan. Pada 1894, gedung ini dibangun kembali oleh H.P.A. de Wilde dan W. Westmas dengan bentuk yang seperti sekarang dapat kita nikmati, yaitu dengan dua buah menara dan atap kubah. Pernah pada satu kurun waktu Gereja Immanuel yang Protestan dipakai pula oleh umat Katolik yang pada saat itu belum memiliki gedung gereja sendiri.

 Setelah puas menikmati keindahan Kota Lama dengan bangunan-bangunan kolonialnya, saya memilih untuk menikmati senja di depan Stasiun Tawang. Ada sebuah kolam besar yang dilengkapi dengan kursi-kursi di pinggirnya. Lain waktu saya akan mencoba melakukan perjalanan pada malam hari. Saya pikir perjalanan malam hari akan menambah keeksotikan Kota Lama Semarang.

Add comment


Security code
Refresh

Translate

English Dutch Indonesian

Who's online

Kami memiliki 10 Tamu online

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_counterHari ini88
mod_vvisit_counterTotal21262

Links

Arkeologijawa.com
Website Resmi Balai Arkeologi Yogyakarta.

Arkeologi UGM
Website Resmi Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada.

Wacana Nusantara
Sebuah situs web pendokumentasian kisah sejarah leluhur Bangsa Indonesia.

Arkeologi.web.id
Situs web yang berisi tentang suberdaya Arkeologi di penjuru Nusantara.

JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval

.:: Kembali Ke Atas ::.

copyright © 2009-2010 Arupadhatu Indonesia All rights reserved | Lestarikan Warisan Budaya Indonesia
arupadhatuindonesia@facebook.com | tunjung@facebook.com