Tiga orang anak kecil berkejaran di halaman Candi Jago sore itu. Terkadang mereka naik kemudian turun lagi dari candi. Kemudian berputar-putar mengitari arca yang ada di bawah candi. Sesekali mereka sengaja menjatuhkan diri di hijaunya rumput. Suara canda tawa mereka semakin melengkapi suasana sore yang merah ini. Mungkin setiap sore mereka datang khusus untuk bermain di halaman Candi Jago, meskipun pintu pagar untuk masuk ke dalam area candi dalam keadaan terkunci.
Pemandangan itu lantas menerbitkan rasa “iri” di hati saya. Pasalnya saya sengaja datang jauh-jauh dari Jogja hanya untuk menjadikan kunjungan ke candi ini sebagai “menu” utama. Maka akan kurang sempurnalah perjalanan saya ke Malang bila belum berinteraksi lebih jauh dengan si candi. Dengan perasaan yang masih diselimuti rasa “iri”, saya pun tak ada harapan lain kecuali terus berharap agar si empu pemegang kunci segera datang.
Tak sabar menunggu, saya dan seorang teman akhirnya nekat untuk masuk melalui celah-celah dari pagar kawat. Perbuatan ilegal ini sebaiknya jangan ditiru kecuali dalam keadaan terdesak. Hasrat untuk “nakal” lah yang lebih mendominasi aksi kami sore itu. Setelah jeprat jepret seadanya –dengan ditemani rasa was-was- kami pun segera keluar area candi. Ternyata melakukan perbuatan ilegal menyisakan rasa tak enak di hati. Seperti diikuti rasa bersalah dan berdosa. Namun, tak apalah jika dilakukan sesekali (:D).
Beberapa saat setelah “membebaskan” diri dari area candi akhirnya si empu pemegang kunci datang juga. Dan, sekali lagi saya masuk ke dalam area candi –kali ini sesuai prosedur-.
Lega sekali rasanya bisa berjarak sedekat ini dengan Candi Jago (tanpa rasa was-was). Candi yang menurut saya sangat keren ini terletak di Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Relief yang menghiasi dinding candi benar-benar mampu menghipnotis saya untuk berlama-lama di sini. Candi ini seperti buku cerita. Sebuah sumber pengetahuan yang menurut saya tidak akan pernah membosankan. Selalu menerbitkan rasa ingin tahu yang tak berkesudahan. Yah, bukannya ingin melebih-lebihkan. Namun itulah yang saya rasakan di candi ini. Perasaan yang sama ketika pertama kali melihat candi ini dua tahun yang lalu.
Candi Jajaghu (nama lama dari Candi Jago) menurut Kakawin Nāgarakrtāgama adalah tempat pendharmaan Raja Wişņuwarddhana (1248 – 1268 M). Ia adalah salah satu raja yang pernah memerintah di Kerajaan Singosari. Ayah dari raja Kĕrtanāgara ini didharmakan sebagai Buddha di Candi Jago. Tidak banyak inf0rmasi yang saya peroleh mengenai tokoh yang satu ini.

Mengenai masa pembangunan, Bernett Kempers memperkirakan tahun 1268 M sebagai tahun pembangunan Candi Jago. Kempers juga menduga bahwa Candi Jago dibangun pada 1280 M bertepatan dengan upacara Sraddha untuk Wişņuwarddhana. Sementara itu, Stutterheim menduga bahwa candi yang sekarang kita saksikan ini adalah hasil karya Adityavarman –seorang raja Melayu Kuna- pada 1343 M. Persoalan ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Secara fisik Candi Jago terdiri dari tiga teras. Bentuknya mengingatkan saya kepada monumen-monumen dari kebudayaan Megalitik. Berundak-undak menyerupai sebuah gunung. Teras yang paling atas adalah teras yang paling sakral. Teras ini letaknya lebih ke belakang dibandingkan teras pertama dan kedua. Mungkin hampir sama dengan struktur keruangan pada pura-pura di Bali. Bagian belakang biasanya adalah bagian yang paling sakral.
Bagian puncak candi tidak diketahui secara pastinya bentuk fisiknya. Yang masih dapat dilihat dari bagian teratas ini adalah sebuah pintu. Mungkin dahulunya pintu ini adalah pintu sebuah ruangan tempat meletakkan arca. Stutterheim kemudian menghubungkan bentuk atap atau bagian puncak Candi Jago dengan bentuk meru atau pagoda. Asumsinya itu didasarkan pada salah satu relief di sisi belakang candi yang menggambarkan adanya bangunan dengan bagian puncak menyerupai meru.
Di sisi barat candi diletakkan beberapa arca. Ada juga sebuah yoni yang dilengkapi dengan ukiran padma pada bagian atasnya. Arca yang cukup menarik adalah Arca Amoghapaça dengan 8 tangan. Di sampingnya diletakkan Kala yang berukuran sangat besar. Dari kala itu saya berpikir mungkinkah terdapat pintu gerbang atau gapura sebelum masuk ke candi utama. Jika menilik catatan dan penelitian para ahli sih tidak pernah disebutkan bahwa candi ini mempunyai pintu gerbang. Namun Kala dengan ukuran “lumayan” besar ini patut menjadi bahan diskusi. Selain Amoghapaça, di candi ini juga ditemukan arca Bhrekuti dan Camunda yang sekarang sudah dipindahkan ke tempat lain. Arca-arca ini dipengaruhi oleh kesenian dari Dinasti Pala di India.
Berbeda dengan arca, relief yang dipahatkan di Candi Jago terkesan “Indonesia” banget. Pikiran saya langsung melayang pada relief-relief yang dipahatkan di Candi Sukuh, Jawa Tengah. Bentuknya seperti wayang. Terlihat sangat berbeda dengan relief yang ada di candi Prambanan. Relief yang dipahatkan di sini menganut gaya “Jawa Timuran”. Gaya ini berkembang pada periode akhir Jawa Kuna, sekitar abad 13-15 M. Pada periode ini kesenian seperti ditarik mundur untuk kembali ke akarnya, yaitu masa prasejarah di Indonesia.
Relief yang dipahatkan di Candi Jago diambil dari beberapa cerita yang bernafaskan Buddhistis dan Sivaistis. Cerita-cerita Buddhistis antara lain Tantri (versi Jawa Kuna dari Panchatantra) yang berisi cerita tentang binatang-binatang. Kemudian dilanjutkan dengan cerita dari Kunjarakarna. Cerita yang bersifat Sivaistis yaitu cerita Parthayajna yang mendominasi teras kedua. Lalu disambung dengan cerita dari Arjunavivaha. Setelah itu ada cerita dari Krshnayana yang menghiasi tubuh candi.
Cerita yang mencuri perhatian saya adalah cerita Kunjarakarna. Diceritakan bahwa Kunjarakarna adalah seorang yaksha yang berhasil membebaskan temannya, Purnawijaya, dari siksa api neraka. Cerita heroik Kunjarakarna dalam misi pembebasan itu dimulai dari kunjungan Kunjarakarna ke neraka. Adegan ini berada di kaki candi sisi tenggara candi. Ceritanya si Kunjarakarna sedang dalam perjalanan menuju neraka. Setibanya di neraka dia melihat proses penyiksaan di sana. Digambarkan ada beberapa kepala manusia di dalam perut seekor binatang –seperti kerbau atau sapi-. Pada adegan selanjutnya digambarkan beberapa orang manusia berkepala hewan sedang berjalan. Awalnya saya mengira bahwa orang-orang berkepala hewan itu adalah manusia yang berada dalam perut si sapi/kerbau tadi. Ciri fisik mereka mengantarkan saya pada interpretasi bahwa mereka dilahirkan dari seekor hewan sehingga mewarisi ciri fisik hewan. Ternyata oh ternyata, dugaan saya salah total.

Beberapa kepala dalam perut binatang itu rupanya adalah gambaran proses penyiksaan di neraka yang disaksikan oleh Kunjarakarna. Selain adegan dalam perut binatang, ia juga menyaksikan para pendosa dimasukkan ke dalam api yang menyala-nyala. Hmmm, ternyata gambaran neraka menurut beberapa agama/kepercayaan sama-sama mengerikan. Selalu berhubungan dengan unsur api dan adegan-adegan penyiksaan.
Kunjarakarna kemudian kembali lagi ke dunia. Ia mencari Purnawijaya untuk menceritakan semua yang dilihatnya. Akhirnya Kunjarakarna pun berhasil membuat Purnawijaya bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Saya pastinya akan melakukan hal yang sama dengan Purnawijaya bila mendengar cerita langsung dari orang yang benar-benar pernah melihat kondisi neraka. Berada dalam perut binatang saja sudah tampak aneh dalam pandangan mata saya. Apalagi harus bergosong-gosong ria dalam kobaran api. Setelah melihat relief ini terbesit niat untuk mengikuti jejak Purnawijaya.
Cerita selanjutnya yang saya ikuti adalah cerita perjalanan Anglingdharma yang berada di pojok sisi utara kaki candi. Diceritakan bahwa Anglingdharma sedang berburu di sebuah hutan. Secara tidak sengaja ia bertemu dengan Naga Gini yang sedang selingkuh dengan ular tampar. Ular tampar pun akhirnya tewas di tangan Anglingdharma. Naga Gini yang terlanjur malu kemudian mengadu kepada suaminya, Naga Raja. Dalam pengaduannya ia memfitnah Anglingdharma. Namun Naga Raja tidak langsung menelan mentah-mentah pengaduan dari istrinya itu. Kemudian ia mencari kebenarannya langsung ke Anglingdharma. Setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya akhirnya Naga Raja memberikan hadiah kepada Anglingdharma kemampuan untuk mengerti bahasa binatang yang disebut dengan “Aji Gineng”.
Sebenarnya masih banyak lagi cerita yang bisa diceritakan kembali di sini. Sayangnya saat itu saya tidak mempunyai waktu yang cukup untuk membaca semua relief yang dipahatkan. Jadilah saya hanya memusatkan perhatian pada relief-relief yang menarik saja. Itupun dalam batasan sangat subyektif yaitu dari kacamata saya sendiri.
Walaupun belum semua cerita dari Candi Jago bisa saya bungkus, namun beberapa hal menarik sempat saya dokumentasikan. Bentuk-bentuk rumah masa klasik menjadi prioritas pertama yang saya rekam. Saya sempat takjub dengan bentuk gapura yang mereka gambarkan. Bentar dan paduraksa dipahat dengan detil. Kedua jenis gapura itu digambarkan tampak samping dan tampak depan. Separuh bagian seperti sengaja dibuat terlihat bagian dalamnya. Semacam irisan dari sebuah bidang sehingga kita bisa melihat anak-anak tangga dari gapura itu.
Sore semakin menua. Kemampuan kamera saya yang tidak seberapa tak mampu lagi mengabadikan tiap frame relief dengan baik. Lagipula masih ada beberapa tempat yang akan kami datangi. Dengan berat hati saya harus berpisah untuk sementara dengan Candi Jago. Candi yang dalam pandangan saya lebih mirip komik versi Indonesia ini benar-benar memberi kesan mendalam.
Sumber bacaan
Kempers, A.J Bernett. 1959. Ancient Indonesian Art. C.P.J. van der Peet. Amsterdam.
Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho N. 1993. Sejarah Nasional Indonesia II. Balai Pustaka. Jakarta.
Renville Siagian. 2001. Candi Sebagai Warisan Seni dan Budaya Indonesia. Yayasan Cempaka Kencana. Yogyakarta.
Twitter
Facebook



Comments
belum berfungsi sebagai PERPUSTAKAAN YANG MENGGEMBIRAKAN
Candi-candi candi-candi kecil (minor) yang potensial itu, seringkali sepi
dan dimanfaatkan untuk hal-hal yang telah disebutkan diatas
Adalah tugas kita bersama untuk meluruskan hal-hal yang belum lurus tersebut..
RSS feed for comments to this post.