Belum mendaftar?

Candi untuk Masa Depan

Yogyakarta dan Jawa Tengah telah mewarisi ratusan candi dari Kerajaan Mataram Kuno yang usianya lebih dari seribu tahun. Candi-candi yang sebagian besar ditemukan dalam keadaan runtuh dan tertimbun tanah itu sudah mendapat perhatian yang serius sejak masa pemerintahan Hindia Belanda hingga sekarang. Banyak candi besar telah selesai dipugar hingga bisa berdiri megah, seperti Prambanan, Sewu, Kalasan, dan Borobudur. Sebagian lain masih dipugar, seperti Plaosan, Sojiwan, dan Ijo. Selain itu, hampir setiap tahun candi-candi kecil terus bermunculan dari muka tanah. Akhir tahun 2009, para pekerja yang tengah membangun perpustakaan di kampus UII secara tidak sengaja menemukan struktur batu candi. Penemuan candi di tengah kampus ini sangat istimewa dan membawa angin segar buat kita. Kenapa?

Selama ini candi-candi di sekitar kita sudah dipelihara dengan baik, tapi sayangnya masih dilupakan. Gara-garanya pemerintah telah mengalihkan candi sebagai pusat kultural menjadi pusat ekonomi, yakni untuk parwisiata. Selain pemerintah, para akademisi dan praktisi pun—termasuk saya—turut bertanggung jawab pada proses transformasi itu. Lihat saja tulisan Ki Supriyoko berjudul Candi di Tengah Kampus (KR 24/12/2009) dan juga karya-karya tulis para mahasiswa terkait bidang itu. Wisata budaya seolah telah mendapat kursi empuk dalam kesimpulan dan rekomendasi mereka tentang pengelolaan candi. Padahal, sejarah sudah menunjukkan bahwa kita tidak pernah untung dari pariwisata candi. Kalau tidak percaya, coba Anda hitung biaya penelitian, pemugaran, dan pemeliharaan candi yang telah dikeluarkan negara (uang rakyat) dibandingkan dengan uang yang didapat dari retribusi dan efek keuntungan pariwisata lainnya. Sungguh, lebih besar pasak daripada tiang. Kegiatan pariwisata bahkan tidak selalu mendatangkan kebaikan bagi candinya sendiri.

Borobudur, misalnya, telah diperlakukan pemerintah sebagai mesin penghasil uang sampai-sampai kaum Budhis cukup kesulitan ketika hendak menjadikan Candi Borobudur untuk kegiatan mereka. Nilai kultural dan kesakralan Borobudur pun akhirnya tenggelam di antara hiruk-pikuk pedagang asongan, tertimbun ratusan pedagang kaki lima, dan samar tertutup hotel mewah yang dibangun pihak pengelola. Karena pengelolaan yang semrawut itu, maka pemerintah, para penggiat pariwisata, dan pencinta warisan budaya perlu kerja keras untuk menominasikan Borobudur sebagai World Heritage kepada UNESCO.

Nasib serupa juga menimpa candi-candi di Dieng. Karena uang retribusi dari Dieng begitu menggiurkan, maka Dieng pun menjadi barang rebutan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Sementara keduanya saling berebut, candi-candi di Dieng pun terbengkalai. Arca-arca sering dicuri, batu-batu candi banyak yang hilang, bahkan situsnya sendiri sudah disulap menjadi taman dan lahan pertanian. Pemerintah seolah lupa bahwa Dieng adalah tempat sakral bagi sebagian besar pemeluk agama Hindu. Pemerintah juga tidak mengindahkan upaya-upaya yang dilakukan para spiritualis Kejawen yang berusaha menghidupkan kembali nilai-nilai spiritualis candi-candi dan warisan budaya lainnya di Dieng. Pemerintah juga menutup mata atas upaya masyarakat setempat untuk menjadikan Situs Dieng sebagai pusat kegiatan kebudayaan. Begitulah, proses belajar atau pewarisan pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan yang dapat dipetik dari monumen itu tidak berjalan. Candi-candi akhirnya hanya menjadi objek rekreatif belaka.

Karena semua candi di Indonesia sudah dikemas menjadi barang jualan untuk wisatawan, maka substansi candi sebagai warisan budaya pun tenggelam dalam bungkus itu. Wajar bila baru sedikit orang yang tahu bahwa candi merupakan bangunan suci yang dibuat untuk tujuan religius dan kemanusiaan. Aspek religius terletak pada fungsinya sebagai rumah dewa. Sebagai tempat pemujaan, candi menjadi poros yang menghubungkan manusia dengan sang pencipta dan pemelihara alam semesta. Di sisi yang lain, candi juga menjadi tetengger yang mengingatkan kita tentang pentingnya hubungan antarsesama manusia. Keletakan, bentuk, arca, dan ornamen candi, termasuk relief-reliefnya, sarat akan makna yang bisa menjadi sumber inspirasi dalam menjalani kehidupan.

Jauh sebelum Gus Dur mengajarkan pada kita tentang pluralisme, dahulu, lebih dari seribu tahun lalu, leluhur kita sudah sangat mengenal dan memahami konsep itu. Kita bisa belajar dari Kompleks Candi Prambanan yang Hindu dengan Kompleks Candi Sewu yang Budha. Dua kompleks candi besar yang berbeda ideologi ini bisa berdampingan di lokasi yang sama. Bahkan, dua kilometer di timurlaut Prambanan terdapat Candi Plaosan yang berciri Budha sekaligus Hindu. Candi-candi itu ada dan berdiri di sana seolah mengingatkan pada pemilik dan pewarisnya bawa hubungan kemanusiaan begitu penting. Dari pemikiran merekalah kemudian muncul istilah Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda tapi satu jua. Meski mereka berbeda keyakinan (agama) tapi mereka tetap satu dalam dalam jalinan sosial-kenegaraan. Ketika nama Indonesia muncul seribu tahun kemudian semboyan itu ternyata dipakai oleh para pendiri bangsa, namun kita belum benar-benar memahami maknanya. Kita benar dalam memaknai perbedaan, namun kita masih keliru dalam memaknai kesatuan. Satu jua diterjemahkan oleh pemerintah kita sebagai sesuatu yang selalu harus sama. Dari Sabang sampai Merauke harus sama seragamnya (seragam sekolah), harus sama makanannya (nasi), harus sama bentuk pemerintahannya (sistem desa), harus sama jumlah gajinya (PNS), harus sama cara pernikahannya (di catatan sipil), dan banyak lagi. Ujung-ujungnya antara konsep persamaan dan perbedaan menjadi sesuatu yang anakronistis, padahal sejatinya Bhineka Tunggal Ika itu menekankan perbedaan dalam kesederajatan seperti yang digagas para leluhur kita dalam ideologi Siwa-Budha.

Tentang semangat pluralisme dari candi itu hanya satu contoh kecil saja. Masih banyak nilai yang bisa kita pelajari dari candi-candi di sekitar kita. Masing-masing bangunan candi meninggalkan pesan tentang religiusitas, sosial, budaya, dan seni yang luar biasa. Pesan dari masa lalu tersebut tertera dalam setiap bagian bangunan candi mulai dari arsitektur, ornamen, relief, hingga seni arcanya. Satu cerita relief Karmawibhangga di Candi Borobudur bisa diangkat sebagai contoh di sini. Di sudut tenggara bagian kaki candi terdapat relief yang menggambarkan tentang seorang laki-laki dan perempuan yang berzinah (selingkuh), kemudian dalam panel berikutnya, atau dalam kehidupan berikutnya, mereka dilahirkan buruk rupa. Kisah-kisah tentang aspek kemanusiaan banyak sekali digambarkan di Borobudur. Namun, entah karena alasan teknis atau karena relief tersebut dianggap terlalu vulgar, maka reliaf-relief yang sarat makna itu kini telah ditutup oleh batu-batu.

Ratusan candi yang kini telah ditemukan sebenarnya bisa menjadi gudang spirit dari masa lalu untuk menjalani kehidupan di masa depan. Candi menjadi saksi hubungan kita dengan India nun jauh di sana. Candi-candi yang dibangun selama ratusan tahun menggambarkan totalitas para pembuatnya pada tanggung jawab. Bandingkan dengan karya-karya kontraktor kita yang membangun secepat mungkin dengan bahan seminim mungkin tapi terus roboh atau rusak hanya dalam hitungan bulan bahkan hari, seperti bangunan di Tanah Abang yang roboh dan menewaskan empat orang akhir tahun 2009. Relief-relief tentang membajak sawah, kapal, pedati, pakaian, bentuk istana, bentuk rumah, menggambarkan pada kita tentang kebesaran pada masa lalu. Masih banyak nilai, makna, dan spirit dari candi-candi yang bisa kita pelajari dan menjadi sumber inspirasi yang tak akan pernah habis. Maka, sudah saatnya menjadikan candi tak sekedar untuk suguhan pariwisata.

Saya bukannya menafik peran pariwisata. Benar, bagaimanapun kita memang perlu dana untuk pemeliharaan candi-candi itu. Namun, sebagai sebuah warisan budaya dan warisan pemikiran, tentu saja kita jangan sampai terlena pada kegiatan pariwisata semata. Agar kita tidak lupa akan sejarah, maka aspek pendidikan dan kebudayaan pun perlu dikedepankan dalam pengelolaan candi-candi yang diwarisakan oleh leluhur kita. Bangsa yang lupa sejarah tidak beda dengan manusia yang lupa ingatan. Ia tak hanya lupa akan jatidirinya, melainkan pula tidak memiliki orientasi masa depan.

Para pimpinan UII yang sejak awal sudah koopratif dengan pemerintah dalam menangani temuan candi di kampusnya barangkali bisa menjadi pelopor untuk mengelola candi secara sinergis sebagai pusat pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata agar hitung-hitungannya menjadi lebih besar tiang daripada pasak—tentu bukan uang sebagai tolok ukurnya. Saya membayangkan candi di UII bisa diteliti hingga tuntas lalu dipugar hingga berdiri dan bisa diapresiasi. Bangunan perpustakaan tetap dibangun di sekitar situ, mengelilingi atau di samping—bukan di atasnya—dengan candi sebagai fokusnya. Di sini perlu ada negosiasi dan kompromi antarpihak karena aturan selama ini mensyaratkan tidak boleh ada bangunan baru di zona inti. Jika bisa mufakat, di perpustakaan itu kemudian dialokasikan satu ruangan yang khusus berisi informasi tentang candi secara umum dan mendalam, baik dalam bentuk buku-buku, audio visual, dan bentuk lainnya. Jika pimpinan UII mau bekerjasama dengan pihak-pihak yang terkait dengan kearkeologian, seperti Jurusan Arkeologi UGM, Balai Arkeologi, Jarahnitra, Museum, serta Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala, saya yakin materi untuk itu tidak akan pernah kurang.

Saya tidak bermaksud menebarkan virus romantisme masa lalu, karena saya percaya bahwa kebudayaan itu tidak statis. Candi harus ditempatkan sebagai entitas yang memiliki nilai-nilai tertentu dan mencerminkan gagasan dari masyarakat pendukungnya di masa lalu yang dapat diambil hikmahnya untuk pegangan generasi-generasi penerus. Jadi, candi bukanlah entitas yang mati yang hanya berfungsi kanggo sawangan thok seperti yang terjadi selama ini. Candi sangat berpotensi menjadi sumber ilham dan daya cipta yang mempunyai kekuatan untuk membantu dan melindungi bangsa ini dalam menapaki masa depan, misalnya kita bisa berguru pada para pembuat Candi Prambanan, Sewu, dan Plaosan melalui pembacaan pada hasil karyanya yang menggambarkan pluralisme.

Dalam proses pewarisan candi dari generasi ke generasi, pemaknaan nilai-nilai tentu saja akan mengalami perubahan karena kita perlu menyesuaikan dengan konteks sosial kini dan masa depan. Inilah istimewanya candi di tengah kampus, di tengah para pemikir, karena di pusat pendidikan ini nilai-nilai kebudayaan dan kehidupan dapat digodok dan ditafsirkan, lalu semangatnya disebarkan kepada khalayak. Akhirnya candi tidak hanya dipelihara, tapi juga yang lebih penting, tidak dilupakan nilai-nilai dan spiritnya. (J. A. Sonjaya, Dosen Arkeologi UGM, Dosen Komunikasi UMY, dan Peneliti di PSAP-UGM, email: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )

Dimuat dalam: Kedaulatan Rakyat, 12 Januari 2010

 

Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Add comment


Security code
Refresh

Translate

English Dutch Indonesian

Who's online

Kami memiliki 5 Tamu online

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_counterHari ini185
mod_vvisit_counterTotal40914

Links

Arkeologijawa.com
Website Resmi Balai Arkeologi Yogyakarta.

Arkeologi UGM
Website Resmi Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada.

Wacana Nusantara
Sebuah situs web pendokumentasian kisah sejarah leluhur Bangsa Indonesia.

Arkeologi.web.id
Situs web yang berisi tentang suberdaya Arkeologi di penjuru Nusantara.

JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval

.:: Kembali Ke Atas ::.

copyright © 2009-2010 Arupadhatu Indonesia All rights reserved | Lestarikan Warisan Budaya Indonesia
arupadhatuindonesia@facebook.com | tunjung@facebook.com