Belum mendaftar?

Candi dalam Novel Indonesia

Penemuan candi di lokasi pembangunan Perpustakaan UII Yogyakarta mengingatkan saya akan novel berjudul Candi Murca karangan Langit Kresna Hariadi. Dalam novel itu, Parra Hiswara yang sedang mencangkul tanah untuk membangun saluran pembuangan tinja mengalami satu peristiwa ketika lubang yang dia gali ternyata menguak sebuah jalan berupa terowongan yang di dalamnya terdapat sebuah candi. Tulisan ini tidak akan membahas motif penemuan candi seperti itu tetapi akan mengurai sejauh mana novel-novel Indonesia merepresentasikan bangunan masa lampau seperti candi menjadi lambang suatu masa. Oleh karena itu, novel-novel yang disebut dalam tulisan ini dibatasi pada novel-novel yang memiliki latar belakang historis kerajaan.

Sejumlah novel yang dengan latar kerajaan kembali marak ketika kran itu dibuka Langit Kresna Hariadi pada 2005 lewat Gajahmada. Kini, di toko-toko buku atau pameran-pameran ada space yang khusus disediakan untuk men-display buku-buku berlatar kerajaan. Ironisnya, dari banyaknya buku yang ada, hanya sedikit yang mampu menggambarkan hal tersebut dengan baik. Aspek historisnya digambarkan hanya dari penyebutan angka tahun terjadinya peristiwa, nama-nama tokoh yang masih mengandung unsur Jawa kuno atau sansekerta, dan mencomot nama raja yang sedang berkuasa. Selain itu, latar yang masih kuno itu hanya digambarkan dengan mengetengahkan masih lebatnya hutan dan hewan yang digunakan sebagai kendaraan. Hanya sedikit pengarang yang mampu mengambarkan dengan kuat aspek bangunan pada masa lampau.

Pembahasan mengenai novel berlatar kerajaan tidak lengkap jika tidak menyinggung nama S.H. Mintardja. Dalam Nagasasra Sabuk Inten dan Api Di Bukit Menoreh, S.H. Mintardja menuliskan Candi Jonggrang. Di novel tersebut, Candi Jonggrang diposisikan sebagai bangunan yang amat agung, yang menjadi hiburan para tokoh ciptaan Mintardja dalam penegembaraan mereka. Wujud bangunan tidak dilukiskan secara detail, hanya sekadar menyebut bahwa candi itu cukup tinggi sehingga Mintardja dalam Nagasasra Sabuk Inten “menaruh” Mahesa Jenar di atas bukit untuk dapat melayangkan pandang ke arah candi itu agar dapat menikmati keindahannya secara menyeluruh.

Hermawan Aksan dalam Niskala: Gajah Mada Musuhku melukiskan dengan cukup baik candi-candi di dataran tinggi Dieng dan Candi Borobudur. Dalam menggambarkan candi-candi yang ada di Dieng, ia menganalogikannya dengan para Pandawa yang berbaris menuju ke kahyangan dengan Puntadewa sebagai pemimpinya. Yang menarik adalah ketika Aksan mencoba melukiskan keadaan Borobudur yang ia sebut Sambhara Budhara itu dengan kondisinya yang memprihatinkan. Dalam novel yang mengambil latar zaman Majapahit itu, Sambhara Budhara terkubur tanah dan diliputi semak belukar. Tampak tidak terurus. Sering pula beberapa bagiannya dicuri oleh penduduk sekitar. Di sini Aksan menyinggung bagaimana seharusnya pemerintahan yang berkuasa memperhatikan dan melestarikan peninggalan leluhur. Disebutnya pemerintahan Majapahit saat itu lebih condong memberi perhatian yang lebih kepada penganut agama Syiwa daripada penganut Budha.

Baik Mintardja maupun Aksan menjadikan candi-candi yang ada sebagai bagian dari tempat yang dilalui para tokohnya sebelum mencapai titik akhir pengembaraan mereka. Di tempat itulah mereka menciptakan peristiwa penting yang menentukan para tokohnya untuk sampai ke dalam akhir cerita. Hal ini tidak terjadi pada tulisan Langit Kresna Hariadi dalam pentalogi Gajahmada-nya. Pentalogi Gajahmada bukanlah novel pengembaraan. Maka bangunan-bangunan lampau yang ditemui tokoh-tokohnya merupakan bagian hidup yang tidak terpisahkan dan hampir setiap hari mereka menemui bangunan-bangunan itu. Sebutlah semisal Candi Bajang Ratu, Candi Wringin Lawang, dan Candi Bajang Catur. Ketiganya memang bukan candi semacam Borobudur atau Jonggrang, ketiganya hanyalah bangunan-bangunan di dalam kompleks istana Majapahit. Ya, Langit Kresna Hariadi menjadikan istana Majapahit sebagai pusaran cerita. Berhasilkah usahanya membangun gambaran istana Majapahit mendekati aslinya?

Bagi saya, usaha Langit tidak hanya berhasil dalam penggambarannya tetapi pertautan latar dengan alur cerita dan pengaruh latar terhadap karakter-karakter juga menonjol dan intens. Dengan cerdas ia menggambarkan Candi Bajang Ratu dengan menyebut ketinggiannya yang dari ketinggian itu ia mendedahkan latar lain, yakni taman makam Antahpura dan segaran tempat para ratu dan putri istana membasahi diri dalam sebuah acara. Candi Bajang Catur yang terdiri dari empat gupala kecil yang memanggul gada disebutnya bersikap seolah mengawasi siapa pun yang melintasi tempat itu. Lebih menarik lagi ketika dalam Gajahmada seri kedua: Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara, Langit mengetengahkan masalah akan dicandikannya Ra Tanca, seseorang yang membunuh Raja Jayanegara.     

Penggambaran latar yang baik dan menarik dalam novel-novel di atas tampaknya tidak banyak diikuti oleh para pengarang novel berlatar kerajaan lainnya. Mereka abai terhadap latar karena lebih mengunggulkan alur cerita sehingga banyak novel berlatar kerajaan dianggap gagal dilihat dari segi kesusastraannya. Beberapa pengarang novel berlatar kerajaan masih ada yang hanya mengandalkan catatan sejarah umum mengenai riwayat singkat sebuah kerajaan. Bahkan, saya mendapati sebuah cerita yang nyaris menjadi epigon Tutur Tinular, sandiwara radio yang kemudian difilmkan, karangan S. Tidjab. Keduanya memang sama mengetengahkan cerita awal berdirinya kerajaan Majapahit, tetapi mengapa motif-motif peristiwanya hampir sama? Tidak ada sesuatu yang baru di sana. Padahal, sejarah selalu menawarkan berbagai penafsiran yang menarik.

Jika ingin mengambil contoh kita dapat melihat pelukisan satu peristiwa bernama Perang Bubat yang ditafsir berbeda oleh dua penulis, Hermawan Aksan dalam Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit dan Langit Kresna Hariadi dalam serial Gajahmada yang ketiga: Perang Bubat. Aksan menolak penyebutan ‘perang’ dalam tragedi itu karena pasukan Sunda yang membawa Dyah Pitaloka hanya berjumlah 93. Ia lebih setuju jika tragedi itu dinamakan pembantaian, bukan perang karena jumlah pasukan yang tak imbang. Di sana, Gajahmada menjadi musuh sementara Langit menafsirkan peristiwa itu terjadi akibat kesalahan komunikasi antara Gajahmada dengan anak buahnya, juga adanya pihak-pihak lain yang ikut berkepentingan terhadap peristiwa itu.

Untuk dapat menutupi kerumpangan latar yang melompong karena selalu ditindihi alur cerita yang lebih berat sehingga merusak bangunan cerita, maka jalan untuk menutupinya adalah dengan mempelajari hasil-hasil peninggalan masa lampau yang masih ada guna membangun latar lebih kokoh. Mintardja mendalami Babad Tanah Jawi sehingga cerita-ceritanya tampak meyakinkan benar-benar terjadi. Aksan dan Langit sama-sama mengkaji Nagarakretagama dan beberapa kitab peninggalan lainnya yang sesuai dengan latar waktu novelnya. Selain itu, ketiganya juga mempelajari peninggalan-peninggalan lain berupa bangunan-bangunan peninggalan masa kerajaan. Jadi, selain harus “menjadi” sejarawan, penulis novel berlatar kerajaan hendaknya mampu pula menempatkan diri “menjadi” seorang arkeolog.  

Kini, sebuah candi baru ditemukan di lokasi pembangunan Perpustakaan UII, Yogyakarta. Pertanyaannya, siapakah yang akan berani menuangkan cerita itu dalam karya sastra (novel) tidak dari sudut asal-muasal penciptaannya, sementara masih banyak antrian candi-candi untuk diabadikan dalam sebuah prosa bernama novel? Publik sudah bosan dengan cerita asal-muasal candi yang justru berakhir ketika candi itu telah terbangun. Sepatutnya cerita berlanjut atau mungkin baru dimulai sehingga di sana candi diposisikan bukan hanya sebagai pelengkap latar waktu melainkan lebih luas lagi dengan menguraikan keadaan, fungsi, dan makna sosialnya pada masanya.

*Mahasiswa Sastra Indonesia UGM

Add comment


Security code
Refresh

Translate

English Dutch Indonesian

Who's online

Kami memiliki 5 Tamu online

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_counterHari ini183
mod_vvisit_counterTotal40912

Links

Arkeologijawa.com
Website Resmi Balai Arkeologi Yogyakarta.

Arkeologi UGM
Website Resmi Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada.

Wacana Nusantara
Sebuah situs web pendokumentasian kisah sejarah leluhur Bangsa Indonesia.

Arkeologi.web.id
Situs web yang berisi tentang suberdaya Arkeologi di penjuru Nusantara.

JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval

.:: Kembali Ke Atas ::.

copyright © 2009-2010 Arupadhatu Indonesia All rights reserved | Lestarikan Warisan Budaya Indonesia
arupadhatuindonesia@facebook.com | tunjung@facebook.com